Minggu, 16 Maret 2014

SKRIPSI DELLA KUSUMAWARDANI (LANJUTAN)



BAB V
PENUTUP
A.       KESIMPULAN
1.         Tujuan penelitian dan hipotesis tindakan
Secara umum layanan konseling kelompok yanag telah dilaksanakan oleh peneliti untuk mengatasi perilaku depresi siswa kelas VII G SMP Negeri 19 Malang sangat efektif dan sangat membantu dalam mengatasi perilaku depresi tersebut.
Hal tersebut  terlihat pada perubahan perilaku pada 6 siswa dari 8 siswa yang diberikan layanan konseling kelompok. Misalnya pada pertemuan ke 3 membahas masalah AP dengan pembahasan masalah kurang emndapat perhatian dari orang tuanya, pertemuan ke 4 membahas masalah MZ dengan pembahasan masalah tak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, pertemuan ke 5 membahas masalah MW dengan pembahasan masalah terlalu banyak dituntut oleh orang tua, pertemuan ke 6 membahas masalah AF dengan pembahasan masalah tak mampu menerima kegagalan yang dihadapi dalam belajar dan kehidupan sehari-hari, pertemuan ke 7 membahas masalah NR dengan pembahasan memiliki harapan yang bertentangan dengan kenyataan, pertemuan ke 8 membahas masalah AP dengan pembahasan masalah AP memendam masalahnya sendiri tanpa berbagi cerita dengan temannya, pertemuan ke 9 membahas masalah MH dengan pembahasan masalah MH yang merasa dikucilkan, pertemuan ke 10 membahas masalah FS dengan pembahasan masalah FS yang tidak nyaman ada dikelas. Disini hanya masalah MW dan APT  dengan pembahasan masalah MW terlalu banyak dituntut oleh orang tua dan AP yang memendam masalahnya sendiri. Hal ini berarti tujuan dari terpenuhi dan hipotesis tindakan terbukti, yaitu upaya mengatasi perilaku depresi melalui layanan kosneling kelompok di SMP Negeri 19 Malang.

SKRIPSI DELLA KUSUMAWARDANI



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah  
Perkembangan dunia anak dan remaja dari masa ke masa selalu menjadi fenomena yang menarik untuk diperbincangkan. Terdapat sederet masalah yang mengintai remaja saat ini, misalnya ancaman narkoba, seks bebas, stres dam depresi remaja, kasus-kasus bunuh diri yang akhir-akhir ini sering diberitakan oleh media masa.
Menurut Willis (2005:56) permasalahan-permasalahan tersebut merupakan representasi dari rendahnya penyesuaian diri remaja terhadap lingkungan dan dirinya sendiri. Menyesuaikan diri terhadap diri sendiri merupakan istilah yang mudah diucapkan tetapi sulit dilakukan. Oleh karena itu, banyak orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri. Akibat tidak mampu menyesuaikan diri dapat dilihat dari konflik batin, hasrat mencapai suatu cita-cita tinggi tetapi kemampuan untuk mencapainya sangat kurang, akan menimbulkan kegelisahan yang mengakibatkan tidak dapat memusatkan perhatian, kurang bersemangat, gemetar, gagap, dan sebagainya. gejala-gelaja tersebut diawali oleh lemahnya kendali diri. Lebih lanjut Willis mengatakan bahwa kegagalan dalam penyesuaian diri dapat disebabkan oleh adanya peristiwa terdahulu yang pernah dialami seseorang. Jika individu pada masa kanak-kanak banyak mengalami rintangan hidup dan kegagalan, frustrasi (kekecewaan) dan konflik (pertentangan) akan mengalami kegagalan penyesuaian diri pada masa remaja. Sebaliknya, jika seorang banyak mendapat keberhasilan dan kebahagiaan pada masa kanak-kanak ia akan memandang positif dan optimis terhadap segala masalah baru yang dihadapi.
Pendidikan sebagai suatu proses yang dinamis dari waktu ke waktu ternyata mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan dinamika masyarakat. Namun demikian, akhir-akhir ini kita dihadapkan pada masalah peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan. Masalah kualitas pendidikan belum terpecahkan, kemudian muncul masalah otonomi pendidikan dan seterusnya, pendidikan tidak akan pernah lepas dari berbagai permasalahan (Marsudi, 2010: 23). Terlepas dari permasalahan umum tersebut, tetap diakui bahwa sekolah adalah tempat penyelenggaraan pendidikan, yang berarti tempat mengembangkan generasi muda bangsa. Oleh karena itu siswa diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan pendidikan yang sedang berlangsung. Di dalam menyesuaikan diri, siswa seringkali mengalami hambatan dan kesulitan yang cukup berarti, sehingga dengan layanan Bimbingan Konseling secara terprogram dan terarah siswa dibantu untuk menyesuaikan diri dengan setiap perubahan.